TESIS TEKNIK SIPIL, 2007

Font Size:  Small  Medium  Large

Analisis keberhasilan penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan konstruksi (studi kasus pada PT X)

Nur . Hidayat

Abstract


Dalam kurun waktu dasawarsa terakhir ini, proses produksi proyek konstruksi khususnya pembangunan gedung bertingkat, mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang dalam proses produksinya menggunakan alat-alat mekanik secara modern. Pelaksanaan proses produksi ini tidak dibarengi dengan pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja secara serius sesuai dengan amanah Undang-Undang dasar 1945 Pasal 27 ayat (2) dan Undang-Undang Tenaga Kerja No.22 tahun 1957, Undang-Undang Tenaga Kerja No.12 tahun 1964, Undang-Undang No.1 tahun 1970, Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.05/Mei/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang-Undang Ketenagakerjaan dibuat oleh pemerintah dalam rangka menjamin perlindungan terhadap tenaga kerja, agar masyarakat lebih sejahtera dan proses produksi dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya secara optimal, walau tidak jarang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja dilaksanakan hanya memenuhi persyaratan formal saja. Kondisi demikian menyebabkan masih banyak kecelakaan kerja yang terjadi di dalam pelaksanaan proses produksi proyek konstruksi, sehingga seringkali proses produksi terganggu akibat adanya kecelakaan kerja yang berarti target dan tuntutan manajemen perusahaan untuk memperoleh kinerja yang sebaik-baiknya yaitu tepat biaya, tepat waktu dan nihil kecelakaan kerja tidak dapat terpenuhi pula. Menyadari pentingnya Keselamatan dan Kesehatan kerja di lingkungan Kerja, maka secara internasional diberlakukan system dan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja atau Occupational Safety and Health Act (OSHA) sebagai persyaratan untuk menjalankan perusahaan dan pelaksanaan proyek skala internasional yang telah diberlakukan di Amerika Serikat sejak 28 April 1971 dan sekarang ini telah diadopsi oleh beberapa negara termasuk Indonesia. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja merupakan kebutuhan utama dalam proses produksi, agar tidak terjadi kehilangan kapasitas produksi, kehilangan waktu kerja, tingginya biaya medis, tingginya biaya material, tingginya ketidakhadiran, rendahnya kualitas kerja dan kemungkinan adanya peningkatan kecelakaan kerja, maka perlu dilaksanakannya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja di lingkungan proyek konstruksi. Penelitian ini dilaksanakan pada proyek-proyek yang berjalan selama tahun 2006 pada PT X Cabang Jakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi Kecelakaan kerja sebanyak 193 kali, dengan 189 korban luka ringan dan 4 luka berat. Penyebab terbesar karena tertusuk dengan 62 korban, luka pada kaki 78 korban, 177 disebabkan factor manusia, kehilangan 104 jam kerja, 98 korban perlu perawatan di Rumah sakit, 72 korban merupakan tukang kayu, usia terbanyak antara 21-30 tahun, jam 14.00-16.00 dan hari Selasa merupakan waktu paling sering terjadi kecelakaan.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.